A. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus
“Anak berkebutuhan khusus adalah mereka yang mempunyai
kebutuhan baik permanen maupun sementara untuk memperoleh pelayanan pendidikan
yang disesuaikan yang disebabkan oleh :
1.
Kondisi sosial-emosi
2.
Kondisi ekonomi
3.
Kondisi politik
4.
Kelainan bawaan maupun yang didapat kemudian”[1]
Anak berkebutuhan khusus menurut ahli :
1. “Mulyono (2006) : anak berkebutuhan khusus dapat
dimaknai dengan anak-anak yang tergolong
cacat atau menyandang ketentuan dan juga anak yang berbakat.
2. Heward : anak berkebutuhan khusus adalah anak
dngan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu
menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.”[2]
B.
Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus
“Anak berkebutuhan khusus yang dimaksud di
sini adalah anak yang mengalami penyimpangan sedemikian rupa dari anak normal
baik dalam hal karakteristik mental, fisik, sosial, emosi ataupun kombinasi
dari hal-hal tersebut, sehingga memerlukan layanan pendidikan khusus supaya
dapat mengembangkan potensinya seoptimal mungkin. Jelas dari definisi itu anak
berkebutuhan khusus memerlukan layanan/program khusus dalam pendidikannya
supaya potensinya/kemampuannya dapat berkembang secara optimal. Dalam
pembahasan ini anak berkebutuhan khusus hanya dibatasi dengan lima anak
berkebutuhan khusus diantaranya ; anak tunanetra, anak tunarungu, anak
terbelakang, anak tunadaksa, dan anak tunalaras.
Dalam segi perkembangan intelektual rata-rata
semua jenis anak berkebutuhan khusus terhambat bahkan ada yang terlambat
sekali. Hal ini tergantung tingkat intensitas kelainannya dan derajat kedalaman
pengalaman yang diberikan kepadanya.
Dalam segi sosialisasi pada umumnya mereka
mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, meskipun di
balik itu mengalami kemudahan dalam menyesuaikan dengan sesama anak
berkebutuhan khusus yang sama kelainannya. Kesulitan menyesuaikan diri dapat
terjadi karena adanya rasa rendah diri yang disebabkan adanya kelainan ataupun
keterbatasan dalam kesanggupannya menyesuaikan diri.
Dilihat dari segi stabilitas emosinya, nampak
bahwa pada umumnya emosi kurang stabil, mudah putus asa, tersinggung, konflik
diri dan sebagainya. Hal ini muncul diduga karena keterbatasannya di dalam
gerak, wawasan dan mengendalikan diri.
Sedangkan dalam segi komunikasi juga mengalami
hambatan atau gangguan terutama bagi mereka yang mempunyai kelainan cukup
berat, meskipun terbantu dengan kemampuan-kemampuan lainnya, misalnya : yang
mengalami gangguan penglihatan dapat diatasi dengan pendengaran atau perabaan,
gangguan pendengaran dapat diatasi dengan penglihatannya dan sebagainya.
1. Karakteristik dan Permasalahan Anak Tunanetra
Yang dimaksud dengan anak tunanetra adalah
anak yang mengalami penyimpangan atau kelainan indera penglihatan baik kelainan
itu bersifat berat maupun ringan, sehingga memerlukan pelayanan khusus dalam
pendidikannya untuk dapat mengembangkan potensinya seoptimal mungkin.
Karena kekurangan daya penglihatan dan bahkan
tidak adanya kemampuan melihat sama sekali, anak tunanetra memiliki kekhasan
tingkah laku dan kepribadian serta kondisi fisik lainnya yang tidak dimiliki
oleh individu yang awas, sehingga pada umumnya mereka tidak dapat berkembang
setaraf dengan orang awas.
Karakteristik anak tunanetra di antaranya sebagai berikut :
·
Anak tunanetra tidak mengharapkan simpati dari orang
lain, tetapi mengharapkan diperlukan sebagaimana orang lain dan memperoleh
kesempatan untuk mengembangkan diri agar dapat mandiri di kemudian hari.
·
Dia tidak mampu mengamati bagaimana orang lain melakukan
sesuatu.
·
Pada umumnya mempunyai kepribadian yang relatif berbeda
dengan anak awas, misalnya merasa rendah diri, hidupnya tidak terarah dan tak
bermakna, mudah mengalami frustasi dan sebagainya.
·
Pada umumnya memiliki perbedaan yang cukup tajam di dalam
menanggapi dan mereaksi lingkungan.
Dari karakteristik yang dimilikinya muncullah beberapa jenis masalah yang
dihadapi individu terutama yang dihadapi oleh murid-murid sekolah. Masalah yang
dimaksud sekurang-kurangnya dapat digolongkan sebagai berikut :
1) Masalah pengajaran
Misalnya : kesulitan dalam menangkap pelajaran yang
verbalistik, menggunakan buku, kesulitan dalam hal menuli dan membaca, dll.
2) Masalah pendidikan
Misalnya, susah dalam memilih ektrakulikuler yang sesuai
dengan bakat, dll.
3) Masalah gangguan emosi
Misalnya, perasaan mudah tersinggung, mudah marah, dll.
4) Masalah penyesuain diri
Misalnya, susah menyesuaikan diri dengan yang lain, dll.
2. Karakteristik dan Permasalahan Anak Tunarungu
Seseorang dikatakan tunarungu bila seseorang
itu tidak memiliki atau masih memiliki sisa pendengaran sedemikian rendahnya
sehingga tidak dapat berfungsi untuk kehidupan sehari-hari sebagaimana pada
umumnya baik dengan atau tanpa menggunakan alat bantu mendengar.
Berbicara masalah anak tunarungu tidak dapat
dipisahkan dengan anak tunawicara. Karena secara faktual antara keduanya ini
sulit diditeksi dalam waktu singkat, meskipun yang selalu dapat dilihat itu
ketidakmampuannya dalam berkomunikasi.
a. Karakteristik fisik, meliputi :
·
Cara berjalannya kaku dan agak membungkuk karena daya
keseimbangan terganggu;
·
Gerakkan kaki dan tangannya lincah/cepat sebab sering
digunakan untuk berkomunikasi dengan lingkungannya, sebagai pengganti bahasa
lainnya;
·
Gerakan matanya cepat dan bringas, apabila organ ini
tidak dijaga dengan baik dapat berakibat kemampuan melihat menurun karena
selalu digunakan sebagai pengganti alat pendengarannya;
·
Kemampuan pernapasannya pendek-pendek terganggu, sehingga
tidak mampu berbahasa dengan baik.
b. Karakteristik dalam segi bicara/bahasa,
meliputi :
·
Biasanya individu yang tuli juga mengalami ketidakmampuan
dalam berbahasa;
·
Tunarungu yang diperoleh sejak lahir dapat belajar bicara
dengan suara normal;
·
Dia kurang menguasai irama dan gaya bahasa;
·
Dia mengalami kesulitan dalam berbahasa verbal dan pasif
dalam berbahasa.
c. Karakteristik kepribadiannya, meliputi :
·
Anak tunarungu yang tidak berpendidikan cenderung murung,
penuh curiga.
·
Lingkungan yang menyenangkan dan memanjakan dapat
berpengaruh terhadap ketidakmampuan dalam penyesuaian mental maupun emosi; dan
·
Anak tunarungu menunjukkan kondisi yang lebih neurotik,
mengalami ketidakamanan, dan berkepribadian tertutup ( introvert ).
d. Karakteristik emosi dan sosialnya, meliputi :
·
Suka menafsirkan secara negatif
·
Kurang mampu dalam mengendalikan emosinya dan sering
emosinya bergejolak
·
Memiliki rasa cemburu dan merasa di perlakukan tidak adil
serta sulit bergaul.
Masalah-masalah lainnya, sebagai berikut :
1) Masalah komunikasi
2) Masalah pribadi
3) Masalah pengajaran atau kesulitan belajar
4) Masalah penggunaan waktu terluang
5) Masalah pembinaan keterampilan dan pekerjaan
3. Karakteristik dan Permasalahan Anak
Tunagrahita
Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami
keterbelakangan kecerdasan dan kekurangmatangan aspek mental lainnya dan
sosialnya sedemikian rupa, yang terjadi selama masa perkembangan, sehingga
untuk mencapai perkembangan yang optimal diperlukan pelayanan dan pengajaran
dengan program khusus.
a. Karakteristik mental, meliputi :
·
Mereka menunjukkan kecenderungan menjawab dengan ulangan
respon terhadap pertanyaan yang berbeda;
·
Mereka tidak mampu memberikan kritik;
·
Kemampuan asosiasinya terbatas;
·
Kapastitas inteleknya sangat rendah.
b. Karakteristik fisik, meliputi :
·
Mereka cenderung memiliki penyimpangan fisik dari bentuk
rata-rata. Misalnya; adanya ketidaksamaan/ketidakserasian anatar kepala dan
wajah (muka), dari ukuran besar kepala ada yang besar atau ada yang kecil, dll.
·
Biasanya mereka mengalami hambatan bicara dan berjalan.
·
Pemeliharaan diri kurang (terutama yang tingkat bawah)
c. Karakteristik sosial-emosi, meliputi :
·
Ada kecenderungan tidak mampu menyesuaikan diri.
·
Minat permainan mereka tidak cocok dengan anak yang
seusianya.
·
Memiliki problem emosi dan tingkah laku.
Kemungkinan-kemungkinan masalah yang dihadapi
anak terbelakang dalam konteks pendidikan, diantaranya dapat disebutkan sebagai
berikut :
1) Masalah kesulitan dalam kehidupan sehari-hari
2) Masalah kesulitan belajar
3) Masalah penyesuaian diri
4) Masalah penyaluran ke tempat kerja
5) Masalah gangguan kepribadian dan emosi
4. Karakteristik dan Permasalahan Anak Tunadaksa
Yang dimaksud dengan anak tunadaksa adalah
anak yang mempunyai kelainan ortopedik atau salah bentuk atau berupa gangguan
dari fungsi normal pada tulang, otot, dan persendian yang mungkin karena bawaan
sejak lahir, penyakit atau kecelakaan, sehingga apabila mau bergerak atau
berjalan perlu alat bantu.
a. Karakteristik kepribadian, meliputi :
·
Mereka yang cacat sejak lahir tidak pernah memperoleh
pengalaman.
·
Tidak ada hubungan antara pribadi yang tertutup dengan
lamanya kelainan fisik yang diderita.
·
Adanya kelainan fisik tidak mempengaruhi kepribadian atau
ketidakmampuan individu dalam menyesuaikan diri.
b. Karakteristik emosi-sosial, meliputi :
·
Kegiatan-kegiatan yang tidak dapat dijangkau oleh anak
tunadaksa dapat berakibat timbulnya emosi.
·
Menyingkirkan diri dari keramaian.
·
Cenderung acuh ketika dikumpulkan pada anak-anak normal.
c. Karakteristik intelegensi, meliputi :
·
Tidak ada hubungan antara tingkat kecerdasan dengan
kecacatan, tetapi ada beberapa kecenderungan yakni adanya penurunan sedemikian
rupa kecerdasan individu bila kecacatan meningkat.
·
IQ anak tunadaksa rata-rata normal.
d. Karakteristik fisik, meliputi :
·
Biasanya disamping mengalami cacat tubuh, ada
kecenderungan mengalami gangguan-gangguan lain, misalnya: sakit gigi,
berkurangnya daya pendengaran, dll.
·
Kemampuan motoriknya terbatas.
Penggolongan masalah lainnya, antara lain :
1) Masalah kesulitan belajar
2) Masalah sosialisasi
3) Masalah kepribadian
4) Masalah keterampilan
5) Masalah latihan gerak”[3]
C.
Pendidikan Inklusif
“Pendidikan
inklusif adalah pendidikan untuk :
1.
Semua anak dan orang dewasa yang butuh belajar
2.
Anak-anak daan orang dewasa yang mempunyai
kemampuan tinggi seperti talenta dan anak cerdas
3.
Orang-orang dengan hambatan fisik maupun
psikis baik yang permanen maupun sementara seperti gangguan emosional dan tingkah
laku, gangguan penglihatan,pendengaran,kesulitan belajar,disfungsi
otak,gangguan motorik dsb
4.
Orang-orang yang terpinggirkan seperti anak
jalanan, pekerja anak, dan pemakai bahan minoritas
kelompok sasaran dalam pendidikan inklusif itu bukan anak
yang berkelainan saja tapi meliputi sebagian besar anak yang belajar. oleh
karenanya sekolah hendaknya mengakomodasi semua anak tanpa memandang kondisi
fisik, intelektual, sosial, emosi, bahasa, ataupun kondisi lainnya. Sekolah
harus mencari cara agar berhasil mendidik semua anak, termasuk mereka yang
berkebutuhan pendidikan khusus.”[4]
Menurut Hahn 1989; Will, 1986 menyatakan bahwa siswa
paling mungkin mengembangkan relasi dan keterampilan sosial yang normal dengan
teman-teman sebaya bila mereka berpartisipasi seoptimal mungkin dalam seluruh
kehidupan sosial sekolahnya. Sebaliknya, beberapa ahli lain kuatir bahwa
apabila siswa-siswa berkebutuhan khusus dimasukkan di kelas biasa untuk
mengikuti kegiatan belajar sampai selesai, mereka tidak dapat memperoleh instruksi
khusus yang intensif yang dibutuhkan agar dapat menguasai keterampilan dasar
yang penting dalam bidang membaca dan sebagainya. (Manset & Semmel, 1997;
Zigmond et. Al., 1995)
Dalam kenyataan, banyak studi penelitian menunjukkan
bahwa penempatan para siswa yang mengalami dalam kelas pendidikan umum dapat
memberikan sejumlah keuntungan dibandingkan menempatkan mereka dalam kelas
pendidikan khusus :
·
Gambaran diri yang lebih positif
·
Keterampilan sosial yang lebih baik
·
Lebih sering berinteraksi dengan teman-teman
sebaya yang normal
·
Perilaku yang lebih sesuai di kelas
·
Prestasi akademik yang setara (dan kadangkala
lebih tinggi) dengan prestasi yang dicapai bila ditempatkan dalam kelas khusus.
(Halvorsen &Sailor, 1990; Hunt & Goetz, 1997; MacMaster, Donovan, &
MacIntyre, 2002)[5]
D. Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus
A.
Anak Berkebutuhan Khusus Temporer
Anak berkebutuhan khusus yang bersifat sementara (temporer) adalah anak
yang mengalami hambatan belajar dan hambatan perkembangan disebabkan oleh
faktor-faktor eksternal. Misalnya anak yang yang mengalami gangguan emosi
karena trauma akibat diperkosa sehingga anak ini tidak dapat belajar.
Pengalaman traumatis seperti itu bersifat sementara tetapi apabila anak ini
tidak memperoleh intervensi yang tepat boleh jadi akan menjadi permanen. Anak
seperti ini memerlukan layanan pendidikan kebutuhan khusus, yaitu pendidikan
yang disesuikan dengan hambatan yang dialaminya tetapi anak ini tidak perlu
dilayani di sekolah khusus. Di sekolah biasa banyak anak-anak yang mempunyai
kebutuhan khusus yang bersifat temporer, dan mereka memerlukan pendidikan yang
disesuaikan yang disebut pendidikan kebutuhan khusus.
B.
Anak Berkebutuhan Khusus Permanen
Anak berkebutuhan
khusus yang bersifat permanen adalah anak-anak yang
mengalami hambatan
belajar dan hambatan perkembangan yang bersifat internal dan akibat langsung
dari kondisi kecacatan, yaitu seperti anak yang kehilangan fungsi penglihatan,
pendengaran, gannguan perkembangan kecerdasan dan kognisi, gangguan gerak (motorik),
gangguan iteraksi-komunikasi, gangguan emosi, sosial dan tingkah laku. Dengan
kata lain anak berkebutuhan khusus yang bersifat permanent sama artinya dengan
anak penyandang kecacatan. Anak berkebutuhan khusus permanen meliputi:
1.
Anak dengan Gangguan Penglihatan (Tunanetra)
Secara umum tunanetra dikelompokkan menjadi buta dan kurang lihat. Sebagian
ahli mengelompokkannya menjadi kurang lihat (low vision), buta (blind),
dan buta total (totally blind). Anak
yang memiliki kerusakan ringan pada penglihatannya (seperti myopia dan hypermetropia ringan) masih dapat dikoreksi dengan bantuan kacamata
dan bisa mengikuti pendidikan seperti anak lainnya, sehingga tidak
dikelompokkan pada tunanetra.
Ketunanetraan dapat diklasifikasikan berdasarkan 3 hal, yaitu tingkat ketajaman
penglihatan,saat terjadinya ketunanetraan serta adaptasi pendidikannya.
a. Berdasarkan Tingkat Ketajaman Penglihatan
1) Tunanetra dengan ketajaman penglihatan 6/20m-6/60m atau 20/70 feet-20/200
feet disebut tunanetra kurang lihat (low
vision). Pada taraf ini para penderita masih mampu melihat dengan bantuan
alat khusus.
2) Tunanetra dengan ketajaman penglihatan antara 6/60m atau 2/200 feet atau
kurang, dikatakan tunanetra berat atau secara umum dapat dikatakan buta (blind). Kelompok ini masih dapat diklasifikasikan
lagi menjadi tunanetra yang masih dapat melihat gerakan tangan dan tunanetra
yang hanya dapat membedakan terang dan gelap.
3) Tunanetra yang memiliki visus 0. Pada taraf yang terakhir ini, anak sudah
tidak mampu lagi melihat rangsangan cahaya atau dapat dikatakan tidak dapat
melihat apapun dan disebut buta total.
b. Berdasarkan Saat Terjadinya Ketunanetraan
1) Tunanetra sebelum dan sejak lahir
Kelompok ini masih belum mempunyai konsep penglihatan. Oleh karena itu,
peran orang tua sangat besar untuk melatih penggunaan indra-indra yang masih
dimilikinya.
2) Tunanetra batita (di bawah 3 tahun)
Konsep penglihatan yang telah dimiliki lama kelamaan akan hilang sehingga
kesan-kesan visual atau konsep-konsep tentang benda atau lingkungan yang
dimilikinya tidak terlalu bermanfaat bagi kehidupan selanjutnya. Oleh karena
itu, orang-orang di sekitarnya perlu membantu mengulang kembali segala sesuatu
yang telah dimengerti anak, saat ia masih dapat melihat.
3) Tunanetra balita (3-5 tahun)
Konsep penglihatan akan tetap terbentuk dengan cukup berarti sehingga akan
menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah-langkah pendidikannya.
Peran orang tua dan guru TK sangat besar artinya dalam membina dan mengarahkan
konsep yang telah dimiliki.
4) Tunanetra pada usia sekolah (6-12 tahun)
Konsep penglihatan telah terbentuk dan mempunyai kesan-kesan visual yang
banyak dan bermanfaat bagi perkembangan pendidikannya. Namun demikian, mereka
harus tetap mendapat perhatian khusus dari orang tua dan gurunya dalam menempuh
pendidikannya karena mereka cenderung mengalami guncangan jiwa. Oleh karena
itu, tugas para guru adalah menyadarkan mereka agar mau menerima kenyatan
sehingga anak dapat berkembang dan menambah pengalamannya dalam
ketunanetraannya.
5) Tunanetra remaja (13-19 tahun)
Anak remaja sudah memiliki kesan-kesan visual yang sangat mendalam. Kesan
ini akan bermanfaat dalam mendukung perkembangan kehidupan selanjutnya. Namun,
ketunanetraan pada usia remaja dapat menimbulkan guncangan jiwa yang sangat
berat karena terjadi konflik batin dan jasmani.
6) Tunanetra dewasa (19 tahun ke atas)
Pada umumnya di usia
dewasa ini mereka sudah memiliki keterampilan dan kemungkinan pekerjaan yang
diharapkan untuk kelangsungan hidupnya dan keluarganya. Ketunanetraan yang
dialaminya menjadi pukulan yang sangat berat dan menimbulkan guncangan jiwa
atau putus asa. Oleh karena itu, mereka hendaknya mendapatkan layanan dan
bimbingan baik secara jasmani, maupun rohani secara khusus.
c. Berdasarkan Adaptasi Pendidikan
Klasifikasi ini
berdasarkan ketajaman penglihatan. Klasifikasi ini dikemukakan oleh Kirk (1989:
348-349), yaitu sebagai berikut :
1) Ketidakmampuan melihat taraf sedang (moderate
visual disability)
Pada taraf ini, mereka dapat melakukan tugas – tugas visual yang dilakukan
oleh orang awas dengan menggunakan alat bantu khusus dan dibantu dengan
pemberian cahaya yang cukup.
2) Ketidakmampuan melihat taraf berat (severe
visual disability)
Pada taraf ini, mereka memiliki kemampuan penglihatan yang kurang baik atau
kurang akurat meskipun dengan menggunakan alat bantu visual dan modifikasi
sehingga mereka membutuhkan lebih banyak waktu dan energi dalam melakukan
tugas- tugas visual.
3) Ketidakmampuan melihat taraf sangat berat (profound visual disability)
Pada taraf ini, mereka
mendapat kesulitan untuk melakukan tugas-tugas visual yang lebih detail,
seperti membaca dan menulis huruf awas. Dengan demikian, mereka tidak dapat
menggunakan penglihatannnya sebagai alat
pendidikan sehingga indra peraba dan pendengaran memegang peranan pentimg dalam
menempuh pendidikannya.
2.
Anak dengan Gangguan Pendengaran dan / Wicara (Tunarungu)
Anak dengan gangguan
pendengaran sering disebut tunarungu. Istilah tunarungu dirasa lebih halus
daripada tuli. Klasifikasi tunarungu:
a. Berdasarkan tingkat kehilangan pendengaran, ketunarunguan dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
1) Tunarungu ringan (mild hearing loss)
anatara 27-40 dB.
Siswa yang mengalami
kondisi ini sulit mendengar suara yang jauh sehingga membutuhkan tempat duduk
yang strategis.
2) Tunarungu sedang (moderate hearing
loss) anatara 41-55 dB.
Ia dapat mengerti
percakapan dari jarak 3-5 feet secara
berhadapan (face to face), tetapi
tidak dapat mengikuti diskusi kelas. Ia membutuhkan alat bantu dengar serta
terapi bicara.
3) Tunarungu agak berat (moderately
severe hearing loss) antara 56-70dB.
Ia hanya dapat
mendengar suara dari jarak dekat sehingga ia perlu menggunakan hearing aid.
4) Tunarungu berat (severe hearing loss)
antara 71-90dB.
Ia hanya dapat
mendengar suara – suara yang keras dari jarak dekat. Siswa tersebut membutuhkan
pendidikan khusus secara intensif, alat bantu dengar, serta latihan untuk
mengembangkan kemampuan bicara dan bahasanya.
5) Tunarungu berat sekali (profound
hearing loss)
Pada kondisi ini
mengalami kehilangan pendengaran lebih dari 90dB. Mungkin ia masih mendengar
suara yang keras, tetapi ia lebih menyadari suara melalui getarannya (vibrations) daripada pola suara.
b. Berdasarkan saat terjadinya, ketunarunguan dapat diklasifikasikan:
1) Ketunarunguan prabahasa (prelingual
deafness), yaitu kehilangan pendengaran yang terjadi sebelum kemampuan
bicara dan bahasa berkembang.
2) Ketunarunguan pascabahasa (post
lingual deafness), yaitu kehilangan pendengaran yang terjadi beberapa tahun
setelah kemampuan bicara dan bahasa
berkembang.
c. Berdasarkan letak gangguan pendengaran secara anatomis, ketunarunguan dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
1) Tunarungu tipe konduktif, yaitu kehilangan pendengaran yang disebabkan oleh
terjadinay kerusakan pada telinga bagian luar dan tengah yang berfungsi sebagai
alat konduksi atau pengantar getaran suara menuju telinga bagian dalam.
2) Tunarungu tipe sensorineural, yaitu tunarungu yang disebabkan oelh
terjadinya kerusakan pada telinga dalam serta saraf pendengaran (nervus chochlearis).
3) Tunarungu tipe campuran yang merupakan gabungan antara tipe konduktif dan
sensorineural, artinya kerusakan terjadi pada telinga luar / tengah dengan
telinga dalam/saraf pendengaran.
d. Berdasarkan etiologi atau asal usulnya, ketunarunguan dibagi menjadi :
1) Tunarungu endogen, yaitu tunarungu yang disebabkan oleh faktor genetik
(keturunan).
2) Tunarungu eksogen, yaitu tunarungu yang disebabkan oleh faktor nongenetik
(bukan keturunan).
Anak dengan gangguan
anggota gerak (tunadaksa).
Tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat
yang menetap pada anggota gerak (tulang, sendi, otot). Pengertian anak
Tunadaksa bisa dilihat dari segi fungsi fisiknya dan dari segi anatominya.Dari
segi fungsi fisik, tunadaksa diartikan sebagai seseorang yang fisik dan
kesehatanya terganggu sehingga mengalami kelainan di dalam berinteraksi dengan
lingkungan sosialnya. Ciri-ciri anak
tunadaksa dapat dilukiskan sebagai berikut:
a) Jaritangankakudantidakdapatmengenggam.
b) Adabagiananggotagerak yang tidaksempurna/lebihkecildaribiasa.
c) Kesulitandalamgerakan (tidaksempurna, tidaklentur, bergetar)
d) Terdapatcacatpadaanggotagerak
e) Anggotageraklayu, kaku, lemah/lumpuh.
Anak dengan gangguan
anggota gerak (tunadaksa), contohnya:
·
Anak layuh anggota
gerak tubuh (polio)
·
Anak dengan gangguan
fungsi syaraf otak (cerebral palsy)
6. Anak Tunalaras (anak
yang mengalami gangguan emosi dan perilaku).
Anak Tunalaras (anak yang mengalami gangguan emosi dan prilaku) memiliki
ciri-ciri, diantaranya:
a. Cenderung membangkang.
b. Mudahterangsangemosinya/emosional/mudahmarah.
c. Seringmelakukantindakanagresif, merusak, mengganggu.
d. Seringbertindakmelanggarnormasosial/normasusila/hukum.
e. Cenderungprestasibelajardanmotivasirendah, sering bolos,
jarangmasuksekolah.
Anakdengangangguanperilakudanemosi,
dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Anakdengangangguanperilaku
1) Anakdengangangguanperilakutarafringan
2) Anak dengan gangguan perilaku taraf sedang
3) Anak dengan gangguan perilaku taraf berat
b. Anakdengangangguanemosi
1) Anak dengan gangguan emosi taraf ringan
2) Anak dengan gangguan emosi taraf sedang
3) Anak dengan gangguan emosi taraf berat
7. Anak Dengan Kesulitan
Belajar Spesifik (specific learning disability)
Menurut Federal law atau hukum federal (IDEA, 1997): Istilah “kesulitan
belajar spesifik” menerangkan semua anak yang mengalami gangguan pada satu atau
lebih proses psikologis dasar yang melibatkan pemahaman atau penggunaan bahasa,
lisan atau tulisan dimana gangguan yang terjadi dapat termanifestasikan menjadi
kemampuan yang tidak sempurna untuk mendengar, berpikir, berbicara, membaca,
menulis, mengeja, atau mengerjakan perhitungan matematika. Menurut Association for Children and Adult
with Learning Disability (ACALD) “Kesulitan belajar spesifik”
adalah suatu kondisi kronis yang diduga bersumber dari faktor neurologis yang
secara selektif mengganggu perkembangan, integrasi dan /atau kemampuan verbal
dan/atau non verbal.
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa
kesulitan belajar spesifik meupakan kelainan sistem saraf yang dialami oleh
seseorang yang mengakibatkan pola pertumbuhan yang tidak seimbang dan kelemahan
pada proses syaraf, sehingga akan mengakibatkan seseorang kesulitan dalam
menyelesaikan tugas akademik dan pembelajaran. Kesulitan-kesulitan tersbut
seperti kesulitan berfikir, membaca, berhitung, berbicara. Karakteristik anak
berkesulitan belajar spesifik antara lain:
a. Pada masa kanak-kanak:
1) Kesulitan mengekspresikan diri.
2) Lambat dalam mengerjakan tugas seperti mengikat sepatu
3) Tidak perhatian, mudah terganggu
4) Ketidakmampuan mengikuti arahan karena ketidakmampuan memahami instruksi
lisan.
5) Lemah dalam ketrampilan bermain di lapangan.
b. Pada usia remaja dan dewasa:
1) Kesulitan dalam memproses informasi auditori
2) Kehilangan barang-barang miliknya, keterampilan mengatur lemah
3) Lambat dalam membaca, pemahaman rendah
4) Kesulitan dalam mengingat nama orang dan tempat
5) Kesulitan mengatur ide untuk menulis
Anak-anak yang termasuk
kedalam kesulitan belajar spesifik meliputi:
a. Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia), ciri-cirinya seperti:
1) Perkembangan kemampuan membaca terlambat
2) Kemampuan memahami isi bacaan rendah
3) Serta ketika membaca sering banyak kesalahan.
b. Anak yang mengalami kesulitan belajar menulis (disgrafia) ciri-cirinya:
1) Ketika menyalin tulisan sering terlambat selesai, sering salah menulis
huruf.
2) Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca
3) Tulisannya banyak salah atau terbalik atau huruf hilang
4) Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.
c. Anak yang kesulitan belajar berhitung (diskalkulia) ciri-cirinya seperti:
1) Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, =,
2) Sulit mengoperasikan hitungan/bilangan.
3) Sering salah membilang dengan urut.
4) Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3
dengan 8, dan sebagainya.
5) Sulit membedakan bangun-bangun geometri.
Cara pengajaran anak berkesulitan
belajar di sekolah antara lain:
a. Pemberdayaan sensori visual dapat dilakukan dengan :
1) Diskriminasi visual, pembelajaran dengan
mencari perbedaan dan persamaan huruf atau suku kata. Misal : Mintalah anak
untuk membedakan kata-kata yang hampir sama, seperti : batu, bata, tabu.
2) Memori visual. Misal : Guru
menunjukkan suatu kata selama beberapa detik lalu menyembunyikannya. Siswa
berupaya mengingat huruf-huruf yang ada dalam kata itu.
3) Menyebutkan nama huruf. Misal : Minta anak mencari kata dengan huruf depan ‟m‟ atau ‟w‟ di majalah
lalu menggunting dan ditempel di buku kegiatan.
b. Pemberdayaan sensori auditori dapat dilakukan dengan cara :
1) Irama, ini penting untuk
belajar tentang ’word familiar’ (kata dengan bunyi sama). Siswa
diajarkan untuk melengkapi puisi atau sajak a-a-a.
2) Blending (menggabung huruf).
Langkah pengajarannya :
1) Ucapkan dua suku kata yang berbeda (Ba-Tu).
2) Minta anak mengulang dan bantu ia mengenali 2 suku kata pembentuknya
3) Memori auditori.
4) Ucapkan kalimat sederhana dan minta anak mengulang. Kalimat dapat
ditingkatkan semakin panjang.
5) Minta anak menghafal puisi atau lagu.
8. Anak Lamban Belajar
(slow learner)
Anak lamban belajaradalah anak yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan
mental (fungsi intelektual di bawah teman-teman seusianya) disertai
ketidakmampuan untuk belajar dan
menyesuaikan diri, sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Masalah-masalah yang mungkin bisa jadi penyebab anak lamban belajar antara lain
karena masalah tingkat konsentrasinya yang rendah, daya ingat yang lemah,
kognisi, serta masalah sosial dan emosional.
a. Karakteristik Anak Yang Lamban Belajar
1) Rata-rata prestasi belajarnya kurang dari 6
2) Dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan
teman-teman seusianya
3) Daya tangkap terhadap pelajaran lambat
4) Pernah tidak naik kelas.
b. Bimbingan Terhadap Siswa Yang Lambat Belajar
Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh seorang guru dalam melakukan
bimbingan terhadap siswa yang lambat belajar antara lain:
1) Bimbingan bagi anak dengan masalah konsentrasi
a) Ubahlah cara mengajar dan jumlah materi yang
akan diajarkan. Siswa yang mengalami
masalah perhatian dapat ketinggalan jika materi yang diberikan terlalu cepat.
Oleh karena itu, akan berguna bagi mereka untuk memperlambat laju pembelajaran,
melibatkan siswa dengan memberi pertanyaan, dan gunakan media dalam pembelajaran
untuk lebih membantu siswa berkonsentrasi belajar.
b) Adakan pertemuan dengan siswa. Dalam pertemuan ini seorang guru memberikan penjelasan dengan cara yang
tanpa memberikan hukuman dan tanpa ancaman akan sangat berguna bagi siswa.
c) Bimbing siswa lebih dekat ke proses pengajaran. Dengan cara membawa mereka dekat
dengan kita sebagai guru secara fisik dan harfiah akan membawa si anak lebih
dekat kepada proses pengajaran.
d) Berikan dorongan secara langsung dan
berulang-ulang, seperti dengan memberikan penghargaan atas
kehadirannya.
e) Utamakan ketekunan perhatian daripada
kecepatan menyelesaikan tugas. Siswa mungkin merasa kecil hati dan tidak diperhatikan bila mereka
dihukum karena terlambat menyelesaikan dibanding temannya. Guru haruslah
membuat penyesuaian dalam jumlah tugas maupun waktu yang disediakan untuk
menyelesaikan tugas berdasar kemampuan masing-masing individu.
f) Ajarkan self-monitoring of attention. Melatih siswa untuk memonitor perhatian mereka sendiri sewaktu-waktu dengan
menggunakan timer. Hal ini akan membantu menciptakan perhatian yang lebih besar
bagi kebutuhan dalam memfokuskan perhatian juga bisa berguna dalam strategi
untuk memperkokoh keterampilan memperhatikan.
2) Bimbingan bagi anak dengan masalah daya ingat.
a) Ajarkan menggaris bawahi dengan
penanda, untuk membantu memancing ingatan. Guru harus memberi tahu siswa
cara memilih kalimat dan istilah kunci untuk diberi garis bawah.
b) Perbolehkan menggunakan alat bantu memori. Karena alat-alat itu bisa
berfungsi bagi mereka sebagai alat pengingat dan bisa jadi juga sebagai alat
pengajaran.
c) Biarkan siswa yang mengalami masalah sulit mengingat untuk mengambil
tahapan yang lebih kecil dalam pengajaran. Misalnya dengan membagi tugas kelas
dan rumah atau dengan memberikan tes kemampuan penguasaan lebih sering.
d) Ajarkan siswa untuk berlatih mengulang dan mengingat. Misalnya dengan
memberikan tes langsung setelah pelajaran disampaikan.
3) Bimbingan bagi anak dengan masalah kognisi.
a) Berikan materi yang dipelajari dalam konteks
“high meaning”. Ini berguna untuk untuk
mengetahui apakah siswa memahami arti bacaan suatu pertanyaan mengenai materi
baru.
b) Menunda ujian akhir dan penilaian. Bagi sebagian siswa, menunda ujian akhir mereka sampai siswa menguasai
sepenuhnya materi yang dipelajari, mungkin merupakan cara terbaik.
c) Tempatkan siswa dalam konteks pembelajaran yang
“tidak pernah gagal”. Siswa biasanya memiliki
perasaan akan gagal berbagai hal yang mereka lakukan. Memutuskan rantai
kegagalan dan menciptakan kepercayaan diri bagi siswa ini merupakan sesuatu
yang paling penting bagi guru untuk melakukannya.
4) Bimbingan bagi anak dengan masalah social dan
emosional
a) Buatlah sistem perhargaan kelas yang dapat
diterima dan dapat diakses. Siswa berkesulitan
belajar perlu memahami sistem penghargaan dikelas dan merasa ikut serta di
dalamnya. Jangan sampai mereka merasa tidak memilki kesempatan untuk
mendapatkan penghargaan yang diterima siswa lain.
b) Membentuk kesadaran tentang diri dan orang lain. Membantu siswa menjadi lebih mengenal sikap mereka dan dampaknya pada
orang lain merupakan kesempatan yang berarti bagi perkembangan sosial dan
emosional.
c) Mengajarkan sikap positif. Ketika siswa berkesulitan belajar menjadi lebih sadar terhadap sikapnya dan
mendapat pemahaman yang lebih baik atas interaksi dengan orang lain, mereka
akan merespon dengan baik intruksi-intruksi tentang cara membentuk hubungan
yang baik dan lebih positif.
d) Minta bantuan. Cari bantuan pada teman
sejawat disekolah yang mungkin dapat memberikan bantuan.
9.
Anak Autis
Autisme berasal dari
kata “autos” yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri. Dalam
kamus psikologi umum (1982), autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan
khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran
subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan
sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang yang hidup
di “alamnya” sendiri.
Autisme adalah gangguan yang parah pada kemampuan komunikasi
yang berkepanjangan yang tampak pada usia tiga tahun pertama, ketidakmampuan
berkomunikasi ini diduga mengakibatkan anakpenyandang autis menyendiri dan tidak ada respon terhadap orang lain
(Sarwindah, 2002). Yuniar (2002) menambahkan bahwa Autisme adalah gangguan
perkembangan yang komplek, mempengaruhi perilaku, dengan akibat kekurangan
kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional dengan orang lain, sehingga
sulit untuk mempunyai ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan sebagai
anggota masyarakat.
Jadi dapat disimpulkan
definisi autisme adalah gejala
menutup diri sendiri secara total, dan tidak mau berhubungan lagi dengan dunia
luar, merupakan gangguan perkembangan yang komplek, mempengaruhi perilaku,
dengan akibat kekurangan kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional
dengan orang lain dan tidak tergantung dari ras, suku, strata-ekonomi, strata
sosial, tingkat pendidikan, geografis tempat tinggal, maupun jenis makanan.
Autisme atau autisme
infantil (Early Infantile Autism) pertama kali dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner
1943 seorang psikiatris Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan
suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut
Sindrom Kanner. Ciri yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi
wajah yang kosong seolah-olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit
sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka
berkomunikasi. Gejala-gejala anak autis tampak sejak lahir, biasanya sebelum
anak berusia 3 tahun.
Berikut beberapa
gejala-gejala anak autis:
a. Tidak bermain dengan teman sebaya dengan cara yang sesuai
b. Terlambat bicara/tak bisa bicara tanpa kompensasi penggunaan isyarat
c. Penggunaan bahasa yang berulang
d. Minat yang terbatas dan abnormal dalam intensitas dan fokus
e. Sensitifitas berlebihan /kurang sensitif
f. Terdapat bakat-bakat dibidang membaca, aritmatika, menggambar, mengeja,
olahraga, komputer
Beberapa lembaga
pendidikan (sekolah) yang selama ini menerima anak autis adalah sebagai berikut
:
a. Anak Autis di sekolah Normal dengan Integrasi penuh.
b. Anak Autis di sekolah Khusus.
c. Anak Autis di SLB.
d. Anak Autis hanya menjalani terapi.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Salim Chairi,
dkk. 2009. Pendidikan Anak Berkebutuhan
Khusus Secara Inklusif. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Ellis Ormrod, 2008. Pendidikan Psikologi. Jakarta:
Erlangga
Hadis Abdul. 2006. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Autistik.
Bandung: Alfabeta.
Hidayat,dkk,Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus, Bandung : Upi Press
IG.A.K.Wardani, dkk.
2008. Pengantar Pendidikan Luar Biasa. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Ihsan. 2009. Karakteristik Anak
Berkebutuhan Khusus.
Sutratinah Tirtonegoro. 2001. Anak
Supernormal dan Program Pendidikannya. Yogyakarta: Bumi Aksara
Winda, andria, dalam situs nya anak
berkebutuhan khusus (diakses pada 23 Mei
2015)
[1]Drs.hidayat,dkk,Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus, Bandung : Upi Press
[2]Winda, andria, dalam situs nya anak
berkebutuhan khusus (diakses pada 23 Mei
2015)
[3]Drs.hidayat,dkk,Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus, Bandung : Upi Press
[4]Ibid, hlm 2
[5]Jeanne Ellis Ormrod, Psikologi Pendidikan,
Jakarta : Penerbit Erlangga, 2008, hlm 230ANA
Share info:
BalasHapusKlinik tumbuh kembang anak "ASA"
Jl. Ciater Barat Raya No. 64
BSD, Tangerang Selatan 15318
Telp : 021 75884409 , 75884410
Pusat Terapi Anak Berkebutuhan Khusus
》 Gangguan Bahasa Ekspresif
》 Gangguan Fokus dan Konsentrasi
》 Kesulitan Belajar
》 ADD / ADHD
》 ASD / Autisme
》 Gross Motor Delay
》 Global Delay Development
》 Gangguan Pendengaran
》 Mental Retardasi
》 Disleksia, Disgrafia, Diskalkulia
》 Gifted
》 Cerebral Palsy
》 Down Syndrome
》 DLL
Melayani:
》 Assessment Dokter
》 Psikotest dan IQ Test
》 Terapi Perilaku
》 Terapi Okupasi
》 Terapi Wicara
》 Fisioterapi
》 Sensori Integrasi
》 Orthotic Prosthetic
》 Parenting Class
Share info:
BalasHapusKlinik tumbuh kembang anak "ASA"
Jl. Ciater Barat Raya No. 64
BSD, Tangerang Selatan 15318
Telp : 021 75884409 , 75884410
Pusat Terapi Anak Berkebutuhan Khusus
》 Gangguan Bahasa Ekspresif
》 Gangguan Fokus dan Konsentrasi
》 Kesulitan Belajar
》 ADD / ADHD
》 ASD / Autisme
》 Gross Motor Delay
》 Global Delay Development
》 Gangguan Pendengaran
》 Mental Retardasi
》 Disleksia, Disgrafia, Diskalkulia
》 Gifted
》 Cerebral Palsy
》 Down Syndrome
》 DLL
Melayani:
》 Assessment Dokter
》 Psikotest dan IQ Test
》 Terapi Perilaku
》 Terapi Okupasi
》 Terapi Wicara
》 Fisioterapi
》 Sensori Integrasi
》 Orthotic Prosthetic
》 Parenting Class